Ketika jejak ramadhan terlalu cepat sirna


Dalam waktu singkat, jejak Ramadhan lenyap tak berbekas. Bukan dalam hitungan bulan, minggu atau bahkan hari. Tapi jam! Tak percaya? Cukup perhatikan apa yang terjadi usai kita shalat Idul Fitri di lapangan terbuka.

Setiap tahun, kita selalu disuguhkan pemandangan yang serupa: kertas koran yang teronggok tak beraturan. Kertas-kertas itu seolah-olah tak bertuan, beterbangan di tiup angin; berceceran di setiap jengkal tanah lapang yang baru saja digunakan untuk ruku dan sujud menyembah Allah. Mungkin, bagi banyak orang ini hal sepele. Tapi, sejatinya ini potret paradoks yang menyedihkan.
Shalat, yang salah satunya mengajarkan nilai kedisiplinan, ternyata tak mampu membuat kita berperilaku disiplin. Betapa tidak. Seusai kita mengucapkan salam, menengok ke kanan dan ke kiri, lalu berdo’a, dengan santainya kita pergi. Kertas koran yang dijadikan alas, ditinggalkan. Shalat yang kita kerjakan ternyata tak berbekas sedikitpun, hanya dalam hitungan detik.

Kita tak menjadi disiplin—karena tak membuang sampah pada tempatnya-- meski sholat itu sendiri mengajarkan nilai-nilai kedispilinan: harus tepat waktu, mengikuti imam, tertib terhadap rukun-rukunnya dan sebagainya.

Ini kian menjadi ironis karena terjadi kurang dari 24 jam setelah Ramadhan meninggalkan kita. Bukankah Ramadhan mengajarkan kita untuk disiplin? Kita patuh untuk tak makan dan minum dari Fajar hingga Maghrib, meski dahaga dan lapar menyerang hebat. Kita taat untuk bangun sahur di malam hari meski rasa kantuk datag tak tertahankan. Kita patuh untuk tak berhubungan suami istri di siang hari meski di luar Ramadhan hal tersebut halal.

Disiplin adalah sikap mental untuk melakukan hal-hal yang seharusnya pada saat yang tepat dan benar-benar menghargai waktu. Meskipun terlihat sangat sederhana, namun agak sulit untuk menerapkan kedisiplinan hingga membudaya dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Jim Rohn, “Anda tidak perlu berubah drastis untuk menyiptakan perubahan besar dalam kehidupan Anda. Tetapi Anda hanya perlu menerapkan sedikit saja kedisiplinan, maka kehidupan Anda akan berubah pada 90 hari mendatang, bukan pada 12 bulan atau 3 tahun mendatang.”

Sayangnya, kita tak bisa melakukan apa yang disarankan Jim Rohn. Manusia, dengan beragam alasan tetap saja tak berperilaku disiplin. “Jalan macet, Pak.” Alasan klise ini kerap kita dengar jika ada rekan atau mungkin kita sendiri yang terlambat tiba di kantor.
Mengapa kita tak mencontoh benda-benda luar angkasa yang patuh, disiplin terhadap perintah Allah. Matahari disiplin terbit dari timur dan terbenam di barat. Bulan hanya mau bersinar di malam hari. Bintang-bintang bekerlip saat gelap. Planet-planet beredar sesuai garis orbitnya.
“Matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (Yaasin: 38-40)

Apa yang terjadi jika matahari tak disiplin: muncul dari barat dan tenggelam di timur? Bagaimana pula jika planet-planet tak lagi bergerak sesuai garis edarnya? Dunia berakhir. The end of life. Itu pula yang terjadi jika manusia tak disiplin. Kita tak akan berkembang. Statis. Jalan di tempat. Tak ada perubahan berarti dalam menjalani hidup. Kita hanya akan menjadi orang biasa-biasa saja. Bahkan, boleh jadi, untuk menjadi orang biasa-biasa saja pun, kita tak mampu.
Kata orang bijak,” Discpline is the bridge between dreams and the achievement. Everybody has dreams, but not many people achieve their dremas. Why? Lack of discipline!
Orang sukses adalah orang yang mampu mendisiplinkan dirinya, seberapa pun berat untuk melakoninya. Tugas yang harus diselesaikan lima hari, maka harus dituntaskan selama itu pula. Tak ada dalih untuk terlambat.

Menjaga sikap disiplin adalah wujud dari mujahadah kita merawat jejak Ramadhan. Dengan cara inilah kita akan terhindar dari sosok wanita jahil yang bernama Rithah binti Amru bin Ka’ab yang merusak kembali kebaikan yang telah dengan susah payah diperjuangkan setahap demi setahap,  seperti yang telah Allah firmankan:
“Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya dengan kuat menjadi cerai berai”. (An-Nahl: 92).
Masihkah kita biarkan kertas itu berserakan? (Erwyn Kurniawan, Jatimulya)

Sumber : http://www.pks-bekasi.com

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © 2010 Blognya Ikhwan All Rights Reserved

Design by Dzignine