Ceritaku

Malam sabtu itu 10 kader memasang banner dikawasan jalan baru. Hampir semua pohon berhasil dipasang atribut. Tak luput tembok pembatas ramai dipasang stiker dan poster. Malam itu atribusasi dimulai jam 23.00-01.00. Ratusan banner telah terpasang manis dengan senyum gambar calon gubernur Banten yang seolah meng-upplouse kerja para jundi dakwah.
Banner yang disiapkan telah habis terpasang semua. Sebagian dari kami istirahat sejenak di salah satu rumah kader yang tidak jauh dari lokasi pemasangan. Dan sebagian yang lain masih memasang atribut yang tersisa. Sekitar 20 menit setelah memasang Banner salah satu dari kami sebut saja akh Ruslan namanya berniat menyusul kawan2 yang masih memasang dikawasan tersebut.
Tiba dilokasi tersebut, Ruslan melihat 2 orang tengah berboncengan motor sembari memikul banner dalam jumlah yang banyak. “wah mereka pasang-pasang juga ternyata” begitu pikir Ruslan. akh Ruslan melanjutkan perjalanan menuju rekan-rekan yang masih sibuk memasang atribut yang tersisa..dan astaghfirullah…banner-banner yang baru saja dipasang itu telah habis.
Dengan cepat, Ruslan menjemput kami dan mengabarkan apa yang terjadi. Bergegas kami ke lokasi, dan mengejar orang yang sempat terlihat oleh Ruslan. “ini adalah panji kita, yang dibiayai oleh para kader-kader kita, yang kadang uang untuk beli susu anaknya disisihkan untuk infaq pembuatan atribut ini. Sedapat mungkin kita harus mempertahankannya!!”
Beberapa anak muda yang masih nongkrong dimalam menjelang pagi itu, mengatakan ; “benar tadi ada 2 orang berboncengan dengan membawa banner berwarna hijau kea rah sana; mereka menunjuk kea rah wilayah penguasa Tangerang. Kami pun terus mengejar, dan menyisir wilayah tersebut, memperhatikan setiap gang yang kami lewati, barangkali kami bisa menemukan sekelompok anak muda yang sedang berpesta kegirangan dengan hasil kerjanya malam ini.
Tak lupa kami pun menembus rumah megah berwarna krem, rumah siapa lagi kalau bukan rumah penguasa Tangerang, hanya beberapa orang disana terlihat tengah asyik mengobrol sembari bermain catur. Nampaknya mereka adalah keamanan rumah itu. Kami pun tak menemukan panji-panji kami disitu.
Kami putuskan stop pencarian dan kembali ke markaz.
Kesal, marah, benci, dongkol jujur kami rasakan. Lelah masih belom hilang, keringat masih basah ditubuh kami, tapi panji kami telah habis hilang direbut oleh mereka bermental pengecut, maaf kalau teman saya bilang “Banci”.
Apakah salah kami marah kawan?? Apakah salah jika kami lantas berbicara keras kawan?? Entah mengapa saya harus mengatakan itu “manusiawi”. Kedzaliman jelas nampak didepan mata, keganjilan begitu nyata di hadapan kami. Kami kesal dengan arogansi penguasa saat ini, kami teriak keras pada mereka para PNS yang tidak netral dan tak mampu bergerak dan penuh ketakutan pada pemimpinnya karena harus diancam begini dan begitu. Kami “kasar” pada system yang berjalan pincang dan sangat tidak sehat di wilayah kami!!
Antum mungkin akan bilang “sabar akhi…” afwan saya harus katakan, “sungguh berbeda memang medan kata-kata dengan medan lapangan” antum yang tidak terlibat mungkin akan bilang “sabar” atau mungkin akan memandang kami “kasar”. Sedangkan kami yang terlibat langsung dengan kencah peperangan dilapangan, kami menganggap kami masih terlalu “lembut”!
Mungkin itu juga yang dirasakan oleh saudara kita Fahri Hamzah. Beliau berada dilapangan sedang kita hanya penonton yang paling pandai berkomentar!! Para supporter bola juga seolah menjadi manusia paling jago dan paling professional dalam berlaga dilapangan.
“ahh…kipernya oon banget sih!! Harusnya dia jeli kemana arah bola melayang!!”
“bodoh banget sih dia!! Harusnya di oper dalu jangan langsung tembak!!”
Hey!! Para supporter!! Turun sini kelapangan, dan buktikan kata kata anda!! Begitu mungkin teriakan keras pemain bola, saat aksinya dilapangan dikomentarin salah melulu.
Kekesalan kami dimalam sabtu itu membuat kami semakin memanas…salah satu dari kami malah telah bersiap memegang sebuah golok, yang lain telah siap dengan bambu, yang lain tengah menyiapkan paku-paku, ada juga telah siap di tangannya palu!!
Hey!! Jangan su’udzon dulu!! Kami bukan mau tawuran! Kami tengah menyiapkan atribut lagi untuk dipasang..hehehe. bambu-bambu itu harus dibelah belah lagi menjadi 2. Dan paku serta partner setianya palu untuk memasang di lokasi yang sudah dicopot sama “banci” (kata temen saya loh, bukan kata saya..”kasar” yah…hehehe)
“mau nyopot banner ini yah??? Besok aja yahh…pleaseee….” Salah satu dari kami bergoyan seperti itu. Dia kasih saran agar banner selanjutnya dibuat ada tulisan seperti itu..suasana jadi lebih santai yang awalnya tegang. Salah satunya menambahkan…”trus dikasih gambar kartun yah, tangannya sambil memohon, trus matanya sambil berkaca-kaca gitu” hehehe…
Jangan….kasih tulisan gini aja…”yang nyopot pasti pilih Jazuli!!” disanggah lagi sama yang lain, gini aja tulisannya “yang nyopot DISUMPAHIN pilih JAZULI!!” hahaha…kami jadi tertawa lepas, seolah lupa dengan kejadian yang membuat kami kesal sampe ubun-ubun. Ketika tawa kami mereda…seorang diantara kami nyeletuk dan menghibur diri…”Alhamdulillah ya…banner kita laku keras” di sambung dengan yang lain…”iya yah..alhamdulilah ya..sesuatu banget buat mereka…” kembalilah tawa itu menghangatkan suasana malam menjelang pagi itu…
Tak terasa desiran ukhuwah mengalir dan menghibur para ukhuwah’ers dimalam itu…”semoga perjuangan kita tak sia-sia ya ikhwah fillah…”
Malam menunjukan pukul 02.15, semakin larut, kami memutuskan untuk dilanjutkan esok malam, karena besok pagi semua harus bekerja lagi.
10 kader itu akhirnya menghentikan kerjanya..sebuah senyuman perpisahan malam itu tetap menghiasi meski panji-panji yang telah mereka pasang telah habis di curi. Mereka harus isttirahat sejenak, karena esok harus kembali melanjutkan perjuangan.
Ya Allah…semoga tak ada yang sia-sia dari kerja-kerja dakwah mereka, semoga KAU hibur para pejuang dakwah itu, dengan kemenangan pilgub yang sedang mereka ikhtiarkan…amin…
Malam ahadnya mereka kembali beraksi…dengan atribut yang lebih banyak lagi dan waktu yang lebih panjang lagi..mereka memasang atribut sampai kumandang adzan shubuh menggema…diakhiri dengan shubuh berjama’ah dan almatsurot bersama-sama…
Aku pun melantunkan sebuah nasyid penggugah ukhuwah dan penyemangat perjuangan..melantunkan syahdu diatas motor yang ku tunggangi..
Sesungguhnya Engkau tahu
Bahwa hati ini tlah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu

Bertemu dalam ketaatan
Bersatu dalam perjuangan
Menegakkan syariat dalam kehidupan

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya

Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam
Ya Robbi bimbinglah kami…

Rapatkanlah dada kami
Dengan karunia iman
Dan indahnya tawakkal padaMu

Hidupkan dengan ma’rifatMu
Matikan dalam syahid di jalanMu
Engkaulah pelindung dan pembela

Kuatkanlah ikatannya
Tegakkanlah cintanya
Tunjukilah jalan-jalannya

Terangilah dengan cahyaMu
Yang tiada pernah padam

Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…
Ya Robbi bimbinglah kami…
Jam 05.15 aku sampai dirumah…istriku menyambut dengan secangkir the manis hangat…
“Gimana bi, lancar pasang2nya malam ini”
“Alhamdulillah lancar mi…tapi wallahu’alam apakah hilang lagi atau tidak seperti kemarin”
“mudah2an gak seperti kamarin ya bi…oya bi,,aku nanti liqo berangkat jam 05.45. Abi bias anterin umi?? Atau abi istirahat aja kan pasti capek dan ngantuk..
“oh bias mi…tenang aja, masih 20 watt ko matanya…hehehe”
Sengaja saat mengantar istri liqo, aku lewat jalan memutar melewati kawasan jalan baru yang semalamn kami pasang atribut disana…
Aku pun tersenyum…dan segera memainkan handphone untuk SMS beberapa ikhwah…
“Alhamdulillah ya…banner kita laku keras!!”

teruntuk jiwa2 yang ikhlas...
meski lelah terasa,
mata kantuk dan lelah memerah,
kau tak henti menancapkan paku pada panji2 dakwah
kau tak henti memikul ratusan banner sebagai amanah
menempelkannya pada setiap pohon,
mengikatnya pada setiap tiang,
menancapkannya pada setiap tembok...

Ratusan Banner itu tlah kau pasang dini hari..
saat yang lain tertidur dan terbuai mimpi...
kau malah berpeluh keringat bekerja untuk da'wah ini...
terkadang, palu palu itu memukul jemarimu...
terkadang, gigitan2 nyamuk mengganggumu...
terkadang, gertakan "musuh" mencegahmu...

Allah tengah menguji keikhlasanmu kawan...
keikhlasan untuk terus bergerak, sementara ada saudaramu yang tak bisa berbuat apa2...
keikhlasan untuk terus bergerak, walaupun esok kau harus kembali bekerja
keikhlasan untuk terus bergerak, walaupun pada akhirnya....
walaupun pada akhirnya....
walaupun pada akhirnya....
BANNER2 YANG KAU PASANG ITU TELAH LENYAP/DIRUSAK SETENGAH JAM SETELAH PEMASANGAN BERLALU....

MASYAALLAH...keringat masih belum kering, dan lelah masih begitu terasa, namun KEDZALIMAN itu begitu dekat mengintai kami...kami lengah sedikit, pasukan PENGECUT itu, merusak dan membawa banner kami. kurang dari setengah jam banner kami lenyap seperti kemarin malam.

pasrah, geregetan, kesal bukan main, tapi kami ikhlas...Allah telah menjadi saksi atas tadhiyah ikhwah sekalian dalam memasang banner yang tiada lelah pada malam ini. Allah melihat setiap amal kita, dan Allah juga melihat kedzaliman mereka...Insyaallah Allah akan terus bersama kita...

laa takhof walaa tahzan..innallaha maána....(ar)

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © 2010 Blognya Ikhwan All Rights Reserved

Design by Dzignine