Merubah Paradigma

Suatu saat Nasrudin Hoya bepergian bersama puteranya ke pasar dengan mengendarai seekor keledai kurus. Karena merasa kasihan maka ia berinisiatif untuk naik bergantian dengan puteranya. Tak disangaka, di tengah perjalanan ada seseorang yang meneriakinya sebagai orang yang tua yang tidak punya rasa belas kasihan, karena anaknya disuruh berjalan dan ia naik keledai. Akhirnya Nasrudin turun dan anaknya dinaikkan ke atas keledai. Ia berfikir bahwa ini adalah cara yang baik. Namun ternyata ditengah perjalanan masih ada orang yang meneriakinya bahwa ia tidak bisa mendidik anaknya, buktinya anaknya kurang ajar, membiarkan ayahnya berjalan sedangkan ia enak-enak naik keledai. Akhirnya Nasrudin naik berdua diatas keledai. Ia berfikir mudah-mudahan tidak ada orang yang berkomentar lagi. Namun tak disangka masih ada juga orang yang meneriakinya ia orang yang tidak punya rasa belas kasihan terhadap hewan. Keledai yang kurus dinaiki berdua. Nasrudin sudah kebingungan dan serba salah. Akhirnya ia dan anaknya berinisiatif untuk mengangkat keledai itu berdua dengan harapan dapat menyelesaikan masalah. Memang diperjalanan tidak ada orang lagi yang beteriak kepadanya, namun hanya menjadi bahan tertawaan dan cemoohan orang, ia dianggap sudah tidak waras lagi.
Sobat, kira-kira siapa yang salah. Nasrudin-kah? Atau siapa?
Jawabannya sangat mudah, yaitu rubahlah paradigma  negative kita terhadap hal-hal yang kita hadapi. Apa yang kita lihat jelek, belum tentu jelek menurut orang lain. Jika orang yang bijak ketika melihat Nasrudin naik keatas keledai sedangkan putranya dibelakangnya, maka berfikirlah bahwa sungguh sangat berbakti anaknya terhadap orang tuanya sehingga ia rela berjalan dan ayahnya naik keledai. Ketika Nasrudin berjalan sedangkan anaknya naik keledai, bagi orang yang bijak akan berfikiran mungkin anaknya sakit, atau sungguh sangat sayang Nasrudin terhadap anaknya itu.
Pardigma yang salah seringkali  membuat diri kita menjadi merugi. Kadang kita sering mengira bahwa Allah tidak adil dengan kita, padahal tidak demikian. Mungkin Allah punya rahasia dibalik ketidak senangan yang kita rasakan.
Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah :216)
Wallahu ‘alam

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Copyright © 2010 Blognya Ikhwan All Rights Reserved

Design by Dzignine